Kiat-Kiat Pilih Agency MarComm Agar Brand Makin Gacor
Penulis:

Halo rekan-rekan profesional! Apakah perusahaan Anda saat ini ada rencana melakukan pitching agency Marcom (Marketing Communications) di pertengahan tahun ini? Atau mungkin Anda mulai merasa bahwa performa agency yang sekarang sudah mulai "loyo"?
Baca Juga: 7 Strategi Branding yang Menarik dan Efektif untuk Penjualan
Mencari partner Marcom di tahun 2024 ke atas itu, memiliki tantangan yang berbeda di dekade sebelumnya. Kita tidak hanya sekadar berhadapan dengan masalah kreativitas semata, tapi juga gempuran Industri 5.0 dengan teknologi AI yang semakin cepat dan pintar, serta pasar yang super demanding, sibuk dan cepat berubah. Nah jadi, salah pilih partner agency bisa bikin urusan panjang! Bukan cuma sekadar soal budget yang hilang, tapi juga soal reputasi brand kita yang jadi taruhannya.
Perhatikan 7 Hal Penting ini Sebelum Memilih Agency
Ada beberapa poin yang mungkin dapat digunakan sebagai panduan dalam memilih agency agar bisnis dan brand makin gacor! Tentunya ini berdasarkan pengalaman pribadi sebagai mantan orang ahensi yang juga pernah menjadi marketing department head di Perusahaan FMCG Global.
1. Full-Service, Spesialis, atau Hybrid?
Dulu, opsinya cuma dua: pakai agency raksasa yang punya semuanya (integrated marcom, full-service) atau agency kecil yang jago satu bidang (specialist). Tapi sekarang ada tren baru: Agency Hybrid.
Agency hybrid biasanya lebih lincah (agile). Mereka punya talenta yang paham User Experience (UX), data analytics, hingga marketing automation dalam satu tim kecil yang terintegrasi. Jika tim internal Anda kecil, agency hybrid seringkali lebih efisien daripada agency raksasa yang birokrasinya kadang bikin proses kerja jadi lambat.
2. Wajib "AI-Savvy", Bukan Cuma Bisa "Prompting"
AI sekarang bukan lagi opsi, tapi kebutuhan. Di akhir 2023 saja, AI diprediksi akan lebih banyak terlibat dalam separuh pendapatan iklan dunia. Jangan pilih agency yang cuma pamer desain cantik. Tanya mereka: "Bagaimana cara mereka memanfaatkan AI untuk mengoptimasi kampanye secara real-time?".
Agency saat ini setidaknya, harus memiliki tim data science atau minimal paham cara menggunakan AI untuk targeting yang presisi agar budget kita nggak "bocor". Ingat, AI bisa bikin kampanye selesai dalam hitungan jam, bukan lagi semingguan. Kalau mereka masih kerja pakai cara manual yang lama, mungkin saatnya Anda cari agency lain.
3. Tragedi Briefing: Masalah Utama Ada di Klien
Ini fakta yang pahit: Banyak klien/marketer gagal memberikan arahan strategis yang jelas ke agencynya. Banyak klien hanya memberikan masalah atau brief sederhana tapi tanpa ada background yang cukup apalagi kejelasan strategi itu sendiri. Akhirnya, agency hanya mampu menebak-nebak apa sesungguhnya keinginan klien. Biasakan gunakan form brief yang lengkap dengan memberikan latar belakang, objective serta hasil yang diinginkan.
Strategi Marcom itu intinya adalah STP (Segmenting, Targeting, Positioning). Sebelum panggil agency, kita harus sudah tahu siapa target market yang mau disasar dan gimana mau dipandang di mata mereka. Kalau brief Anda "ngambang", jangan kaget kalau ide yang agency berikan juga cuma "indah di permukaan" tapi tidak berdampak ke target. Pahami juga pain point, motivasi dan harapan target kita secara mendalam. Sisi emosional dan rasional. Be the champion of your brand, product/service and your customer/consumer. Kalau sebagai klien aja kita tidak memahami hal yang beginian, maka dipastikan agency juga bakal kerepotan.
4. Saatnya Pindah ke "Pay-by-Results" (PBR)
BBC’s Chief Customer Officer, Kerris Bright, memiliki saran yang bagus, yaitu "jangan tanyakan campaign ini akan memakan cost berapa? tapi tanyalah berapa kembalinya investasi (ROI) saya?". Kampanye yang kelihatan mahal tapi bisa balikin profit berkali lipat itu jauh lebih murah daripada kampanye "murah" yang nggak menghasilkan apa-apa.
Dunia Marcom mulai meninggalkan model komisi tradisional. Sekarang trennya adalah Pay-by-Results. Contohnya, Airbnb pernah membayar agency mereka berdasarkan jumlah "malam" yang terjual.
Skema PBR ini sangat cukup adil karena membuat agency punya visi yang sama dengan Anda, yaitu hasil nyata, bukan cuma sekadar plan untuk spending budget. Dalam suatu artikel saya pernah membaca, ada sekitar 80% marketer global memiliki rencana untuk meningkatkan kontrak berbasis perform ini agar lebih transparan.
5. Jangan Terkecoh “Pitch Team”
Biasanya agency akan menurunkan tim jagoannya saat pitching. Para tim senior yang terlihat sangat menguasai "lapangan" dan jago dalam presentasi, dihadirkan mempresentasikan strategi saat pitching. Tetapi ketika proyek jalan, yang menangani akun Anda malah tim junior plus anak magang! Senior hanya akan turun jika ada masalah. Hahaha… ini penyakit lama di dunia agency.
Saat seleksi, garis bawahi dengan tegas: Siapa anggota tim yang akan handle akun ini secara day to day? Yang jelas perlu juga dipastikan adanya kecocokan chemistry yang kuat antara tim operasional Anda dengan mereka. Ingat dalam bisnis trust itu sangat penting.
6. Cari Partner yang Punya Etika
Di era sekarang, konsumen sangat peduli pada isu lingkungan dan sosial. Agency besar bahkan sudah mulai berani melepas klien yang nggak memenuhi standar ESG (Environmental, Social, and Governance) mereka.
Sebaliknya, Anda juga harus cek apakah agency tersebut punya reputasi yang bersih. Jangan sampai brand Anda kena masalah hanya karena agency Anda melakukan praktek curang, seperti membeli fake followers untuk influencer yang mereka tawarkan. Atau brand anda kena imbas gegara agency-nya ada oknum pelaku KS yang masih gentayangan.
7. Rahasia Hubungan Panjang Agency dan Klien
Dalam dunia nyata, banyak kisah hubungan klien-agency yang bisa bertahan hingga puluhan bahkan lebih dari seabad. Misalnya dulu saya pernah bergabung dengan Matari di Era Almarhum Pak Ken T.Sudarto yang menangani brand seperti Konimex, Sosro, dan Astra hingga belasan dan tahun. Juga hubungan Unilever dengan JWT atau Pepsico dengan BBDO. Rahasianya bukan di kreativitas semata, tapi di onboarding, saling memahami, rasa empati dan kerapnya hubungan tatap muka baik formal maupun informal.
Jadi setelah pitching, begitu dapat pemenangnya, jangan langsung lepas tangan. Luangkan waktu untuk duduk bareng, kenalkan kultur perusahaan Anda, dan samakan ekspektasi. Hubungan yang sukses butuh kejujuran dua arah dan pertemuan tatap muka yang rutin untuk evaluasi, bukan cuma lewat email.
Nah semoga dengan kiat-kiat ini, Anda mendapatkan agency yang dapat berdampak bagi pertumbuhan brand dan bisnis Anda.
Baca Juga: Seberapa Bermanfaat Training Digital Marketing untuk Jualan?
Untuk memperkuat pengetahuan dan skill Anda mengenai branding, Anda dapat mengikuti training Building Brands with Integrated Marketing Communications Strategy yang dapat ditemukan di website PasarTrainer.
Penulis:
